Tampilkan postingan dengan label galeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galeri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2008

Sambut Hari Nan Fitri






Suasana malam menjelang hari raya sangat meriah, karena tiap tahun selalu diwarnai dengan takbir keliling. Acara yang menyedot ratusan penonton ini begitu kental dengan alat-alat tradisional yang digunakan antara lain patrol yang terbuat dari bambu, jidor (bedug) dari tong ditambah glangsing(karung beras).

Anak-anak kecil sangat antusias ikutan takbir keliling, menempuh perjalanan hingga 5 km tak mematahkan kegembiraan mereka guna menyambut hari yang fitri.

Sabtu, 20 September 2008

Grebeg Aksoro Mojopahit




Hari Kebangkitan Nasional terasa berbeda ketika saya menyempatkan hadir di Candi Bajang Ratu, Trowulan Mojokerto, ribuan orang memadati area candi untuk mengikuti ritual dalam peringatan kejayaan Mojopahit,
14 abad Zaman Sriwijaya serta 100 tahun kebangkitan Nasional.

Merdeka..merdeka..merdeka
seruan itu terlontar dalam pembukaan ritual yang merahkan tarian serta puisi. Acara yang baru terjadi kali ini ditujukan agar negara ini bangkit kembali menjadi negara yang makmur gemah ripah loh jinawi.

Rasa nasionalisme nampak jelas telihat dari pakaian serta properti
(alat-alat tardisional) dalam ritual yang mengusung tema Menapak Bumi Nusantara.

Selasa, 22 Januari 2008

Patung trowulan





Puaskan ‘Dahaga’ Masa Silam di Trowulan
Jika Anda mengidamkan nuansa khas kerajaan Majapahit di masa lampau, temukan impian Anda di Jl. Raya Trowulan, Mojokerto. Sejenak, pemahat patung di sepanjang jalan itu akan memuaskan ‘dahaga’ kerinduan di masa silam.

Suguhan klasik nan unik tertangkap cermat ketika sepasang mata tertuju pada seniman pemahat batu di sentral peninggalan kerajaan Majapahit, Mojokerto. Malah kesan primitif seolah cukup lekang pada sosok seniman batu di era serba moderen ini. Toh, bagi mereka apalah arti sebuah kemoderenan jika mampu menghasilkan uang untuk menyambung hidup.
Titisan kemampuan leluhur dianggap sebagai percikan awal sumber rejeki untuk para keturunannya. Dari kemampuan turun-temurun itulah yang mengilhami sebagai besar masyarakat di sekitar Trowulan menggantungkan nasibnya untuk mendapatkan rejeki dari hasil pahatan.
Entah berapa seniman pahat batu yang menggeluti bisnis ini, yang jelas bagi mereka yang bermodal palu dan paju (betel) sudah mampu mengukir batu sesuai harapan dan pesanan untuk dipasarkan. Tak perlu waktu lama untuk menjadi pemahat batu, “Asal ada kemauan dan sedikit jiwa seni, dengan belajar satu bulan kita sudah mahir membuat patung sendiri,” kata Usman, salah seorang pemahat asal Pasuruan.

Untuk membuat sesosok patung layak jual, bukanlah hal gampang yang tinggal memahat aneka macam batu. Paling penting harus memahami jenis batu pahatan, idealnya ada tiga tipikal batu yang didatangkan dari Pacitan yang terdiri dari batu hitam, batu hijau, dan batu merah.
Ketika pengenalan batu sudah dikuasai, proses pembuatan patung terbagi tiga tahapan. Tahapan pertama memahat patung, kedua biasa disebut ngraeni alias mengatur lekuk wajah agar nampak jelas, langkah ketiga menghaluskan patung dan terkadang pemberian warna dengan cat. Umumnya per tahapan ini dikerjakan oleh ahli masing-masing bagian.
Ketika tahapan-tahapan itu dilalui dengan mulus, tak heran bila hasil kerja keras itu setaraf dengan uang sebesar Rp. 1 sampai 3 juta, bergantung tingkat kesulitan dan ukuran patung. Bali, bisa disebut sebagai wilayah terbesar untuk pemesan patung berkarakter kepala Budha, Dewa Shiwa, Budha Gundul, serta Budha Tidur. Karena nilai rupiah yang dihasilkan cukup besar, salah satu home industry di wilayah Jati Sumber yang sudah berdiri sejak 1974 kini mempunyai sekitar 15 pekerja setiap hari. Rata-rata penghasilan yang diterima para pekerja antara Rp.50-300 ribu, besar skecilnya pendapatan itu bergantung jenis dan ukuran pahatan.




foto by : Heri Chayo

Rabu, 02 Januari 2008

berkah dari sampah


Bicara soal sampah, pasti tidak lepas dari kehidupan pemulung. Pekerjaan yang patut diacungi jempol, setiap hari mereka bergelut dengan tumpukan sampah di terik matahari, maupun hujan tanpa sedikitpun merasa jijik. Menurut Pak Yono, jumlah pemulung di TPA sekarang ini bertambah, mencapai 800 orang yang mayoritas mayarakat pendatang dari Bondowoso, Lamongan, Tuban, Sumenep, Jember, Tulungagung, Mojokerto, dan sebagian besar orang Madura. Tidak ada aturan bahkan ujian untuk bekerja di lokasi tersebut, penjaga TPA memberikan kebebasan bagi mereka yang menggantungkan asanya di gunung sampah, namun berdasar kesepakatan setiap satu minggu sekali para pemulung harus bergantian lahan, agar semua rata tidak ada yang dirugikan. Oleh karena itu ditunjuk satu orang sebagai ketua kelompok mewakili tempat asal mereka, agar lebih mudah mengkoordinasi mereka.