
Kamis, 11 Desember 2008
Jadi tradisi

karya
Heri cahyono
Jumat, 14 November 2008
Gambar cahaya

karya
Heri cahyono
MBIS

karya
Heri cahyono
Selasa, 11 November 2008
Kenang jasa pahlawan

karya
Heri cahyono
Selasa, 07 Oktober 2008
Sambut Hari Nan Fitri





Suasana malam menjelang hari raya sangat meriah, karena tiap tahun selalu diwarnai dengan takbir keliling. Acara yang menyedot ratusan penonton ini begitu kental dengan alat-alat tradisional yang digunakan antara lain patrol yang terbuat dari bambu, jidor (bedug) dari tong ditambah glangsing(karung beras).
karya
Heri cahyono
Berebut

Tua, muda dan anak-anak berebut naik ataupun turun kereta api ekonomi di stasiun Jombang pada H+3. Walau berdesakan dan harus berdiri mereka tetap naik agar mereka bisa bekerja kembali.
karya
Heri cahyono
Minggu, 21 September 2008
Seni Bisu


Pertunjukan yang menggandalkan gerakan tubuh biasa disebut pantomim memukau ratusan penonton di kebun CCCL Surabaya, Selasa 10 juni 2008.
Philippe Bizon, pemain pantomim asal Prancis mengabdikan hidup pada "seni bisu" ini menyuguhkan pertunjukan berjudul Les Petites Etapes Du Bonheur (Langkah kecil mencapai kebahagiaan), dia tampil dan berbagi momen-momen kehidupan dengan publiknya.
Gerakan Wasit EURO, anak autis, saat di kamar mandi, itulah beberapa permintaan penonton di akhir pertunjukan kepada Philippe. Gerakan-gerakan lucu muncul secara spontan dan membuat penonton kagum atas pertunjukan tersebut.
karya
Heri cahyono
Sabtu, 20 September 2008
Grebeg Aksoro Mojopahit
Merdeka..merdeka..merdeka seruan itu terlontar dalam pembukaan
Rasa nasionalisme nampak jelas telihat dari pakaian serta properti (alat-alat tardisional)
karya
Heri cahyono
Selasa, 12 Februari 2008
Imut

sepatu yang di gunakan seorang pemain dalam memainkan lakon. Wacana tentang urusan gender sangat terasa dalam pertunjukan teater yang di sutradarai Ellin Aprilia.
karya
Heri cahyono
Siluet

Dengan menggunakan layer putih dan lampu dari belakang sehingga pemain terlihat gelap membuat pertunjukan ini semakin menarik. Pertunjukan teater ini memakan waktu hingga tiga jam.
karya
Heri cahyono
Gender

Salah satu adegan dalam teater yang berjudul Opera Julini yang lakon-lakon didalamnya menjadi penting untuk menyuarakan kontrol sosial di masyarakatnya.
karya
Heri cahyono
Harapan kecoa- kecoa

Pementasan teater oleh mahasiswa STIKIP PGRI Jombang angkatan2005, mengangkat judul Opera Julini yang mengajak kita untuk melihat sisi lain dari kehidupan kota yang gemerlap dan dihiasi dengan derita, kelaparan, harapan-harapan yang tak kunjung menjadi kenyataan.
karya
Heri cahyono
Pelengkap Doa

Buah-buahan di bawa oleh masyarakat yang akan berdoa dan di letakkan di meja yang sudah tersedia. Buah-buahan tersebut di bagikan dan dimakan lagi setelah doa selesai.
karya
Heri cahyono
Khusu’

Tepat di jam 12 malam para ibu-ibu berdoa di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang dengan harapan di tahun baru ini musibah yang melanda Negara ini bisa berakhir.
karya
Heri cahyono
Ikuti Tradisi

Terlihat Anak yang akan menyalakan dupa sebelum melakukan doa dalam menyambut pergantian tahun cina.
karya
Heri cahyono
Jelang Imlek Di Klenteng Hok Liong Kiong

Puluhan masyarakat keturunan Tiong Hoa di sekitar klenteng Hok Liong Kiong Jombang berdoa menjelang pergantian tahun Baru Cina.
karya
Heri cahyono
Selasa, 22 Januari 2008
Patung trowulan




Puaskan ‘Dahaga’ Masa Silam di Trowulan
Jika Anda mengidamkan nuansa khas kerajaan Majapahit di masa lampau, temukan impian Anda di Jl. Raya Trowulan, Mojokerto. Sejenak, pemahat patung di sepanjang jalan itu akan memuaskan ‘dahaga’ kerinduan di masa silam.
Suguhan klasik nan unik tertangkap cermat ketika sepasang mata tertuju pada seniman pemahat batu di sentral peninggalan kerajaan Majapahit, Mojokerto. Malah kesan primitif seolah cukup lekang pada sosok seniman batu di era serba moderen ini. Toh, bagi mereka apalah arti sebuah kemoderenan jika mampu menghasilkan uang untuk menyambung hidup.
Titisan kemampuan leluhur dianggap sebagai percikan awal sumber rejeki untuk para keturunannya. Dari kemampuan turun-temurun itulah yang mengilhami sebagai besar masyarakat di sekitar Trowulan menggantungkan nasibnya untuk mendapatkan rejeki dari hasil pahatan.
Entah berapa seniman pahat batu yang menggeluti bisnis ini, yang jelas bagi mereka yang bermodal palu dan paju (betel) sudah mampu mengukir batu sesuai harapan dan pesanan untuk dipasarkan. Tak perlu waktu lama untuk menjadi pemahat batu, “Asal ada kemauan dan sedikit jiwa seni, dengan belajar satu bulan kita sudah mahir membuat patung sendiri,” kata Usman, salah seorang pemahat asal Pasuruan.
Jika Anda mengidamkan nuansa khas kerajaan Majapahit di masa lampau, temukan impian Anda di Jl. Raya Trowulan, Mojokerto. Sejenak, pemahat patung di sepanjang jalan itu akan memuaskan ‘dahaga’ kerinduan di masa silam.
Suguhan klasik nan unik tertangkap cermat ketika sepasang mata tertuju pada seniman pemahat batu di sentral peninggalan kerajaan Majapahit, Mojokerto. Malah kesan primitif seolah cukup lekang pada sosok seniman batu di era serba moderen ini. Toh, bagi mereka apalah arti sebuah kemoderenan jika mampu menghasilkan uang untuk menyambung hidup.
Titisan kemampuan leluhur dianggap sebagai percikan awal sumber rejeki untuk para keturunannya. Dari kemampuan turun-temurun itulah yang mengilhami sebagai besar masyarakat di sekitar Trowulan menggantungkan nasibnya untuk mendapatkan rejeki dari hasil pahatan.
Entah berapa seniman pahat batu yang menggeluti bisnis ini, yang jelas bagi mereka yang bermodal palu dan paju (betel) sudah mampu mengukir batu sesuai harapan dan pesanan untuk dipasarkan. Tak perlu waktu lama untuk menjadi pemahat batu, “Asal ada kemauan dan sedikit jiwa seni, dengan belajar satu bulan kita sudah mahir membuat patung sendiri,” kata Usman, salah seorang pemahat asal Pasuruan.
Untuk membuat sesosok patung layak jual, bukanlah hal gampang yang tinggal memahat aneka macam batu. Paling penting harus memahami jenis batu pahatan, idealnya ada tiga tipikal batu yang didatangkan dari Pacitan yang terdiri dari batu hitam, batu hijau, dan batu merah.
Ketika pengenalan batu sudah dikuasai, proses pembuatan patung terbagi tiga tahapan. Tahapan pertama memahat patung, kedua biasa disebut ngraeni alias mengatur lekuk wajah agar nampak jelas, langkah ketiga menghaluskan patung dan terkadang pemberian warna dengan cat. Umumnya per tahapan ini dikerjakan oleh ahli masing-masing bagian.
Ketika tahapan-tahapan itu dilalui dengan mulus, tak heran bila hasil kerja keras itu setaraf dengan uang sebesar Rp. 1 sampai 3 juta, bergantung tingkat kesulitan dan ukuran patung. Bali, bisa disebut sebagai wilayah terbesar untuk pemesan patung berkarakter kepala Budha, Dewa Shiwa, Budha Gundul, serta Budha Tidur. Karena nilai rupiah yang dihasilkan cukup besar, salah satu home industry di wilayah Jati Sumber yang sudah berdiri sejak 1974 kini mempunyai sekitar 15 pekerja setiap hari. Rata-rata penghasilan yang diterima para pekerja antara Rp.50-300 ribu, besar skecilnya pendapatan itu bergantung jenis dan ukuran pahatan.
foto by : Heri Chayo
karya
Heri cahyono
Senin, 21 Januari 2008
Ngantuk
.jpg)
Salah satu peserta drumband ngantuk sembari menunggu giliran tampil dalam acara parade senja yang di gelar setiap tanggal 17 di halaman Gedung Grahadi Surabaya. tak hanya drumband saja tapi atraksi silat dan tarian juga dapat kita nikmati.
karya
Heri cahyono
basah

Air yang mencapai hampir satu meter ini membuat mereka harus menggungsi di pinggir jalan.
karya
Heri cahyono
panen
Jebolnya tambak akibat banjir di desa gelap, Lamongan memberikan
berkah bagi sebagian orang, mereka mencari ikan dengan cara menjaring.
ikan hasil tangkapan sebagian untuk di makan sendiri dan sisanya di jual.
karya
Heri cahyono
ojek-ojek

Dengan mengunakan batang pisang membantu warga
korban banjir di desa Widang, Tuban untuk memindahkan
sepeda motor.
karya
Heri cahyono
Jumat, 18 Januari 2008
Isi waktu senggang
Ibu-ibu di desa gurah Anyar, gresik mayoritas menjadi buruh pembuat sarung tenun saat mereka tidak pergi ke sawah, mereka mendapat upah 12.000 hingga 15.000/sarung.
karya
Heri cahyono
Selasa, 15 Januari 2008
ukir keris

Pengrajin ukir keris di desa Aengtongtong Sumenep, Madura sampai saat ini masih bertahan. mereka membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk menyelesaikan satu ukiran keris. setiap ukiran mempunyai arti yang berbeda-beda, mereka dapat upah mencapai 15 jt-20 jt setiap satu kerisnya tergantung tingkat kesulitannya.
karya
Heri cahyono
Berobat

korban banjir di lamongan mendatangi posko kesehatan untuk berobat.
kebanyakan dari mereka mengalami gatal-gatal di kaki.
karya
Heri cahyono
Rabu, 02 Januari 2008
berkah dari sampah
.jpg)
Bicara soal sampah, pasti tidak lepas dari kehidupan pemulung. Pekerjaan yang patut diacungi jempol, setiap hari mereka bergelut dengan tumpukan sampah di terik matahari, maupun hujan tanpa sedikitpun merasa jijik. Menurut Pak Yono, jumlah pemulung di TPA sekarang ini bertambah, mencapai 800 orang yang mayoritas mayarakat pendatang dari Bondowoso, Lamongan, Tuban, Sumenep, Jember, Tulungagung, Mojokerto, dan sebagian besar orang Madura. Tidak ada aturan bahkan ujian untuk bekerja di lokasi tersebut, penjaga TPA memberikan kebebasan bagi mereka yang menggantungkan asanya di gunung sampah, namun berdasar kesepakatan setiap satu minggu sekali para pemulung harus bergantian lahan, agar semua rata tidak ada yang dirugikan. Oleh karena itu ditunjuk satu orang sebagai ketua kelompok mewakili tempat asal mereka, agar lebih mudah mengkoordinasi mereka.
karya
Heri cahyono
Tak sanggup lagi

Salah satu bendungan di lamongan yang difungsikan
serbagai sudetan (jalan lain) kalau debit air bengawan solo
meningkat. tetapi bendungan ini juga masih belum bisa
membantu menggurangi debit air. Akhirnya beberapa desa
di lamongan mengalami kebanjiran.
serbagai sudetan (jalan lain) kalau debit air bengawan solo
meningkat. tetapi bendungan ini juga masih belum bisa
membantu menggurangi debit air. Akhirnya beberapa desa
di lamongan mengalami kebanjiran.
karya
Heri cahyono
Langganan:
Postingan (Atom)